Minggu, 01 Maret 2015

Di Susun Oleh : 1. Kana Rizqiyah 2. Veni Nofiyanti 3. Dhias fitrianingsih 4. Wahyu Utami P. PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA, ILMU PENGETAHUAN ALAM DAN PENDIDIKAN TEKNOLOGI INFORMASI UNIVERSITAS PGRI SEMARANG 2015 KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas nikmat kesehatan dan kesempatan yang telah diberikan sehingga tugas akhir mata kuliah praktikum anatomi tumbuhan yang berjudul “ANATOMI TUMBUHAN ORGAN AGLAONEMA SP. (SRI REJEKI)” dapat selesai tepat waktu. Semoga tugas akhir ini bermanfaat bagi pembaca dan agar pembaca dapat memperoleh gambaran menyeluruh mengenai anatomi tumbuhan tanaman aglaonema. Diharap isi dari buku ini dapat menjadi pengantar serta dasar bagi mereka yang akan mendalami struktur tumbuhan maupun mempelajari aspek terapannya. Dalam penyusunan makalah ini saya menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu saya mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang tentunya bersifat membangun demi kelengkapan makalah yang kami susun. Demikian kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang menyempatkan diri membaca makalah ini semoga dapat bermanfaat. Semarang, 17 Januari 2015 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ii DAFTAR ISI iii PENDAHULUAN 1 BAB I 4 AKAR 4 BAB II 9 BATANG 9 BAB III 14 DAUN 14 BAB IV 22 ORGAN REPRODUKSI 22 DAFTAR ISI 26 PENDAHULUAN Aglaonema sp atau yang biasa disebut sri rejeki, atau chinese evergreen merupakan tanaman hias populer dari suku talas - talasan atau Araceae. Genus Aglaonema memiliki sekitar 30 spesies. Aglaonema sp. Klasifikasi ilmiah Kerajaan: Plantae Divisi: Magnoliophyta Kelas: Liliopsida Ordo: Alismatales Famili: Araceae Genus: Spesies : Aglaonema Aglaonema sp. Tanaman bernama lokal sri rejeki ini sekarang lebih dikenal dengan nama aglaonema. Daunnya yang elegan dan indah membuat aglaonema pantas dijuluki “Ratu Daun”. Daya tarik aglaonema terletak pada pada warna dan bentuk daun yang unik. Daunnya kini tidak sepenuhnya berwarna hijau, tetapi lebih bervariasi, seperti kombinasi warna putih, merah, merah muda, dan kuning. Selain memiliki pola daun yang indah, aglaonema diyakini dapat membawa hoki (keberuntungan). Konon, jika tanaman ini tumbuh daun baru berarti ada tambahan rejeki bagi pemiliknya. Oleh karena itu, aglaonema dulunya lebih populer dengan nama sri rejeki (lucky plant). Nama aglaonema berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari kata “aglaos” dan “nema/nematos”, artinya terang/mengkilap. Tanaman ini masih satu famili dengan talas-talasan (aracaeae) serta kerabat dekat dengan spathipyllum dan philodendron. Penyebaran utama aglaonema ada di Asia Tenggara, meliputi Filipina, Indonesia, Malaysia, Thailand, Laos, Vietnam, Brunai Darussalam, dan Myanmar. Lalu menyebar ke Cina, Florida, dan Amarika Ciri-ciri Tanaman Aglaonema 1. Akar, dapat menentukan kondisi tanaman yang dipelihara.Akar yang berwarna putih menunjukkan tanaman dalam keadaan sehat, sedangkan akar yang berwarna coklat menandakan tanaman sakit. Umumnya akar berkisar 2-5 mm. 2. Batang, aglaonema mempunyai diameter batang relatif kecil, sekitar 1-3 cm atau lebih tergantung jenis tanaman dan kemampuan tumbuhnya. 3. Daun, merupakan bagian yang menjadi daya tarik utama dan mempunyai pola warna bervariasi. Pada jenis spesies alam, warna daun domonan hijau dengan corak putih. Sedangkan pada jenis silangan/hibrida daun domonan berwarna merah, kemerahan, kuning, hingga jingga. Bentuknya bervariasi antara bentuk lanset, bulat telur, berbentuk jantung, hingga elips. Ukuran antara 10-40 cm dengan corak yang beragam. 4. Bunga, berbentuk seperti bunga talas atau keladi yang keluar dari ketiak daun, berwarna putih dan ditopang oleh batang yang panjang. Jenis bunga ini termasuk uni seksual, bagian bunga betina dan jantan terdapat dalam satu bunga. 5. Buah, akan muncul di pangkal bunga, berbentuk tonjolan kecil. Buah akan matang dalam waktu 8 bulan setelah terjadi pembuahan. Bentuk buah menyerupai biji kopi dengan diamater mencapai 1 cm. Secara umum, aglaonema yang beredar saat ini terbagi dalam dua kelompok, yaitu aglaonema alam/spesies dan aglaonema silangan/hibrida. 1. Aglaonema alam/spesies, adalah jenis aglaonema asli (bukan hasil silangan), ciri-cirinya adalah daun berwarna hijau dominan serta kombinasi hijau domonan serta kombinasi hijau dan putih. Kecuali jenis aglaonema rotundum yang berwarna agak kemerahan dan daunnya berbentuk bulat telur. Menurut beberapa kolektor jenis aglaonema rotundum yang berkualitas berasal dari daerah Sumatera, terutama daerah Aceh. Beberapa jenis spesies anatara lain aglaonema costatum, aglaonema commutatum, aglaonema nitidum, dan lain-lain. 2. Agalaonema silangan/hibrida, merupakan hasil persilangan antara beberapa jenis aglaonema. Aglaonema jenis ini umumnya memiliki tampilan yang sangat menakjubkan, misalnya berwarna merah cerah, kuning, dan oranye. Aglaonema hibrida ada yang merupakan hasil penyilangan Indonesia (disebut aglaonema hibrida lokal), dan hasil silangan luar negeri (disebut aglaonema hibrida impor). Beberapa contoh aglaonema hibrida lokal adalah pride of Sumatra, Donna Carmen, Adelia, Tiara dan lain-lain. Sedangkan contoh jenis hibrida impor adalah Butterfly, Legacy, Super Red, Lady Valentine dan lain-lain. Sifat tanaman aglaonema beragam berdasarkan jenisnya. Ada aglaonema yang dapat terkena sinar matahari dan ada juga yang harus ternaungi. Sebagian aglaonema dapat hidup di tempat lembab, dan sebagian lagi di tempat sedikit kering. Sifat tanaman ini tergolong bandel. Aglaonema mudah dirawat dan cocok untuk dijadikan tanaman indoor, apalagi dengan motif daunnya yang indah. Sisi menarik dari aglaonema sebenarnya bukan dari bunganya, namun daunya yang semarak dengan corak aneka warna. Tanaman juga tahan dalam ruangan ber-AC hingga satu bulan, jadi tak perlu repot mengganti bunga setiap hari seperti jika meletakkan bunga potong. Perbanyakkan tanaman Aglaonema dapat dilakukan secara generative dan vegetatif. Perbanyakan generative dilakukan dengan menggunakan biji. Sedangkan perbanyakan Agalonema vegetative dilakukan dengan menggunakan anakan, setek bonggol, setek tunas dan cangkokkan. Perbanyakan dengan setek dilakukan dengan menggunakan batang Aglaonema yang berukuran 3-4 cm. BAB I AKAR A kar dalam istilah ilmiahnya disebut “Radix”, merupakan bagian utama dari tumbuhan yang telah memiliki pembuluh. Asal akar adalah dari akar lembaga (radix), pada dikotil, akar lembaga terus tumbuh sehingga membentuk akar tunggang, pada monokotil akar lembaga mati, kemudian pada pangkal batang akan tumbuh akar-akar yang memiliki ukuran hampir sama sehingga membentuk akar serabut. Pada ujung-ujung akar terdapat meristem apikal yang terus membelah diri dan berkembang juga terdapat kaliptra (tudung akar) yang berfungsi sebagai pelindung. Tudung akar berasal dari meristem apical dan terdiri dari sel-sel parenkim. Sifat-sifat akar: a. merupakan bagian tumbuhan yang biasanya terdapat di dalam tanah, dengan arah tumbuh ke pusat bumi (geotrop) atau menuju ke air (hidrotrop), meninggalkan udara dan cahaya. b. tidak berbuku-buku, jadi juga tidak beruas dan tidak mendukung daun-daun atau sisik-sisik maupun bagian-bagian lainya. c. warna tidak hijau, biasanya keputih-putihan atau kekuning-kuningan. d. tumbuh terus pada ujungnya, tetapi umumnya pertumbuhannya masih kalah pesat jika dibandingkan dengan bagian permukaan tanah. e. bentuk ujungnya seringkali meruncing, hingga lebih mudah untuk menembus tanah. Fungsi akar bagi tumbuhan : a. Akar tumbuhan sebagai jangkar untuk menyokong dan memperkokoh berdirinya tumbuhan di tempa thidupnya. b. Akar berfungsi sebagai media penyeraan air dan garam-garam mineral (zatun surhara) dari dalam tanah c. Dalam kondisi tertentu akar berfungsi sebagai alat respirasi, misalnya akar pada tumbuhan mangrove, yang disebut "pneumatofor". d. Akar berfungsi untuk tempat penyimpanan cadangan makanan. Misalnya wortel dan kentang memiliki akar tunggang yang membesar, berfungsi sebagai tempat menyimpan makanan. e. Beberapa jenis akar tumbuhan berfungsi sebagai organ reproduktif vegetatif. Misalnya pada tumbuhan sukun, dari bagian akar dapat tumbuh tunas yang akan menjadi individu baru. Struktur Anatomi dari Akar terdiri dari: a. Epidermis (kulit luar) Epidermis merupakan lapisan terluar akar dan hanya terdiri dari selapis sel yang tersusun dari sel-sel yang rapat satu sama lain tanpa ruang antar sel dan berdinding tipis. Dalam hubungannya dengan proses penyerapan air, epidermis bersifat semipermiabel mudah ditembus air. Sesuai dengan fungsinya sebagai pelindung jaringan di bawahnya, epidermis mengalami penebalan sehingga strukturnya menjadi lebih kuat. Pada permukaan epidemis tumbuh bulu – bulu akar yang merupakan tonjolan epidermis dan berfungsi untuk memperluas menyerap air dan unsure hara yang diperlukan. b. Korteks Korteks merupakan lapisan kulit pertama di sebelah dalam epidermis terdiri dari banyak sel dan mempunyai dinding sel yang tipis. Di dalamnya terdapat ruang-ruang antar sel sebagai tempat penyimpanan udara dan pertukaran gas. Korteks mengililingi silider pusat dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan. Jaringan-jaringan yang terdapat pada korteks antara lain : parenkim, kolenkim, dan sklerenkim. c. Endodermis Endodermis terletak di sebelah dalam korteks. Endodermis berupa satu lapis sel yang tersususn rapat tanpa ruang antar sel, dinding selnya mengalami penebalan gabus. deretan sel-sel endodermis dengan penebalan gabusnya dinamakan pita kaspari. penebalan gabus ini tidak dapat ditembus air sehingga air harus masuk ke silinder pusat melalui sel endodermis yang dindingnya tidak menebal, disebut sel penerus air. Endodermis merupakan pemisah yang jelas antara korteks dan stele. d. Silinder Pusat / Stele Silinder pusat merupakan lapisan yang terletak di tengah akar di sebelah dalam endodermis. Di dalamnya terdapat pembuluh kayu (xylem) dan pembuluh tapis (floem) yang sangat berperan dalam proses pengangkutan air dan mineral. Xilem mengangkut air dan mineral dari dalam tanah ke daun, sedangkan floem mengangkut hasil-hasil fotosintesis ke seluruh bagian tubuh tumbuhan yang memerlukan. Akar aglaonema merupakan akar serabut. Warnanya putih bersih, terlihat gemuk, dan berbentuk silinder. Jika tanaman sakit akar aglaonema akan kurus dan berwarna coklat. Sistem perakaran ini dimiliki oleh tumbuhan monokotil. Akar ini terdiri dari sejumlah akar kecil, ramping, dan berukuran sama. Perakaran serabut terbentuk pada waktu akar primer membentuk cabang sebanyak-banyaknya. Pada tumbuhan yang berakar serabut, akar primer atau akar embrio tidak tumbuh terus tetapi akan mati, sebagai gantinya akan tumbuh banyak akar pada pangkal batang. Akar tersebut ukurannya lebih kecil dari akar primer, namun banyak dan bercabang-cabang. Akar serabut menyebar ke tanah sekitar tumbuhan. Dengan demikian akar serabut mampu mengumpulkan air dari area yang cukup luas dibandingkan jangkauan akar tunggang. Keterangan : 1. Kutikula 2. Epidermis 3. Korteks 4. Endodermis 5. Perisikel 6. Empulur 7. Xylem 8. Floem Pada sayatan melintang akar aglaonema (sri rejeki ) di bagian paling luar terdapat kutikula, yaitu lapisan lilin yang befungsi untuk mencegah penguapan air yang berlebih. Di bawahnya terdapat lapisan epidermis, sel epidermis berkembang dari protoderma. Sel epidermis rapat dan berdinding tipis, pada tanaman ini terdiri dari satu lapis sel. Selanjutnya terdapat lapisan korteks, korteks akar menjadi lebih dominan dibandingkan jaringan lainnya. Jaringan korteks tersusun atas sel-sel parenkim yang berbentuk besar dan memungkinkan adanya vakuola yang besar. Vakuola ini berfungsi dalam penyimpanan cadangan makanan dalam bentuk pati. Lapisan terdalam berkembang berkembang menjadi lapisan endodermis. Endodermis adalah lapisan paling dalam korteks akar dengan sel-sel yang dilapisi pita caspary yang membatasi korteks dan stele. Pita caspary adalah dinding sel endodermis yang mengalami penebalan dan berbentuk seperti pita. Fungsi lapisan endodermis adalah sebagai pembatas selektif yang mengatur masuknya bahan-bahan dari larutan tanah dalam jaringan pembuluh didalam stele. Silinder pusat (stele) merupakan bagian terdalam dari akar. Di dalam stele terdapat beberapa jaringan: 1. Persikel (perikambium) Merupakan jaringan lapisan terluar dari stele. Akar cabang terbentuk dari pertumbuhan persikel ke arah luar. 2. Berkas pembuluh angkut (vasis) Terdiri atas xilem dan floem yang tersusun bergantian menurut arah jari-jari. Pada tanaman monokotil tidak terdapat kambium di antar xylem dan floem. 3. Empulur. Letaknya paling dalam atau diantara berkas pembuluh angkut terdiri dari jaringan perenkim. 4. Xylem dan floem Pada tanaman aglaonema yang merupakan tanaman monokotil letak xylem dan floem tersebar, membentuk tipe pembuluh angkut konsentris amfikibral yaitu posisi floem mengelilingi xilem. BAB II BATANG Batang merupakan sumbu dengan daun yang melekat padanya. Batang adalah bagian kedua dari tumbuhan setelah akar. Batang bersatu dengan akar melanjutkan sari makanan yang dibawa oleh akar melalui jaringan pengangkut.Pada ujung batang terdapat tiga daerah perkembangan seperti pada ujung akar. Bagian-bagian batang menurut irisan memanjang terdiri atas Zona Meristem, Zona Memanjang, dan Zona Pematangan (diferensial). Pada umumnya batang mempunyai sifat-sifat berikut : 1. Umumnya berbentuk panjang bulat seperti silinder atau dapat pula mempunyai bentuk lain, akan tetapi selalu bersifat aktinomorf. 2. Terdiri atas ruas-ruas yang masing-masing dibatasi oleh buku-buku dan pada buku-buku inilah terdapat daun. 3. Biasanya tumbuh ke atas menuju cahaya atau matahari (bersifat fototrop atau heliotrop) 4. Selalu bertambah panjang di ujungnya, oleh sebab itu sering dikatakan, bahwa batang mempunyai pertumbuhan yang tidak terbatas. 5. Mengadakan percabangan dan selama hidupnya tumbuhan, tidak digugurkan, kecuali kadang-kadang cabang atau ranting yang kecil. 6. Umumnya tidak berwarna hijau, kecuali tumbuhan yang umurnya pendek, misalnya rumput dan waktu batang masih muda. Secara umum, batang mempunyai beberapa fungsi berikut: 1) Sebagai tempat pengangkutan air dan unsur hara dari akar. 2) Memperluas tajuk tumbuhan untuk efisiensi penangkapan cahaya matahari. 3) Tempat tumbuhnya organ-organ generatif. 4) Efisiensi penyerbukan dan membantu pemencaran benih. 5) Pada tumbuhan tertentu, sebagai tempat penyimpanan makanan cadangan, misalnya berupa umbi atau rimpang. Secara anatomi, struktur akar dan batang tidak terlalu jauh berbeda. Perbedaan keduanya hanya dalam hal ada tidaknya endodermis. Pada akar terdapat lapisan endodermis, sedangkan pada batang tidak terdapat lapisan endodermis. Susunan lapisan batang dari luar ke dalam, yaitu epidermis, korteks, dan stele (silinder pusat). 1. Epidermis Sama halnya dengan yang terdapat pada akar, lapisan epidermis batang terbentuk oleh satu lapisan sel yang susunannya rapat dan tidak memiliki ruang antarsel. Pada dinding sel sebelah luar terdapat lapisan kutikula yang berguna untuk melindungi batang dari kekeringan. Pada jaringan tumbuhan yang telah tua, terdapat kambium gabus yang menggantikan fungsi jaringan primer. Pada kambium gabus terdapat celah yang disebut lentisel, sebagai tempat terjadinya aktivitas pertukaran gas. Epidermis batang dapat membentuk turunan (derivat), antara lain dapat menjadi sel silika dan sel gabus. Peristiwa ini banyak terjadi pada epidermis batang tebu. 2. Korteks Lapisan korteks pada batang tersusun oleh sel-sel parenkim yang keadaan dindingnya tipis. Sel-sel parenkim pada korteks batang tidak beraturan sehingga mengakibatkan banyak ruang di antara sel-selnya. Selain sel parenkim, korteks juga mengandung kolenkim dan sklerenkim. Kedua sel ini berfungsi untuk menyokong dan memperkuat batang. Sel-sel yang terdapat di bagian dalam korteks mengandung amilum. Sel-sel ini disebut sarung tepung (floeoterma). Meskipun dari segi morfologi tak terlihat adanya endodermis, telah dibuktikan bahwa lapisan korteks terdalam memiliki sifat kimiawi dan fisiologi yang serupa dengan endodermis. Jadi, ada batas fisiologi anatar korteks dan daerah silinder jaringan pembuluh. 3. Stele (SilinderPusat) Silinder pusat batang terdapat di bagian dalam korteks. Di bagian terluarnya terdapat lapisan yang disebut perisikel. Silinder pusat ini mengandung sel-sel parenkim dan berkas-berkas pembuluh angkut, yaitu xilem dan floem. Pada berkas prokambium, xylem primer berdiferensiasi dari tepi dalam kea rah luar atau floem berdiferensiasi dari tepi luar ke arah dalam. Akhirnya, seluruh berkas terdiferensiasi menjadi berkas kolateral dengan xylem dan floem primer. Pada tumbuhan yang memilki pertumbuhan sekunder, sebagian prokambium daiantara floem, yakni yang terletak diantara floem dan xylem primer akan berdiferensiasi menjadi kambium pembuluh. Berdasarkan letak xilem dan floem pada batang, berkas pembuluh angkut dibedakan menjadi lima tipe, yaitu kolateral terbuka, kolateral tertutup, bikolateral, ampivasal, dan ampikribal. Berkas pembuluh angkut disebut kolateral terbuka, apabila letak floem berada di sebelah luar xilem dan di antara xilem dan floemnya terdapat lapisan kambium. Berkas pembuluh angkut seperti ini banyak terdapat pada kebanyakan tumbuhan dikotil. Berkas pembuluh kolateral tertutup, yaitu floem terletak di sebelah luar xilem, tetapi di antara xilem dan floem tidak terdapat lapisan kambium. Xilem dan floem diselubungi oleh lapisan sklerenkim. Tipe berkas pembuluh seperti ini terdapat pada kebanyakan tumbuhan monokotil. Pada tipe berkas pembuluh angkut yang disebut bikolateral lain lagi. Tipe berkas pembuluh angkutnya memiliki floem luar dan floem dalam serta memiliki xilem yang berada di antaranya. Berkas pembuluh ini banyak dijumpai pada tumbuhan familia Solanaceae, Cucurbitaceae, dan Apocynaceae . Tipe berkas pembuluh ampivasal, yaitu tipe berkas pembuluh yang keadaan letak xilemnya mengelilingi floem. Tipe ini banyak ditemukan pada tumbuhan Cordyline dan Acorus Tipe kelima yaitu tipe berkas pembuluh ampikribal, memiliki floem yang mengelilingi xilem. Berkas pembuluh seperti ini banyak terdapat pada tumbuhan Pteridofita (paku-pakuan). Batang aglaonema ada yang pendek dan ada yang tinggi, tergantung pada jenisnya. Batang tersebut tidak berkayu dan tertutup oleh pelepah daun. Batang Aglaonema berbentuk silinder, berwarna putih hingga putih kekuningan, dan termasuk batang basah (herbaceous) yang bersifat lunak dan berair. Batang basah mudah dipotong, batangnya tidak keras dan berair. Tumbuhan dengan batang basah umumnya pendek, tidak setinggi pohon kayu.Ukuran batang Aglaonema pendek dan tertutup oleh daun yang tersusun rapat antara. Warna batang Aglaonema pada umumnya putih, hijau muda, atau merah muda. Bagian luar batang terdiri dari epidermis yang tipis dan tidak mengandung gabus. Pada epidermis terdapat stomata sehingga jaringan di dalamnya dapat mengambil oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Keterangan : 1. Epidermis 2. Korteks 3. Berkas pembuluh 4. Empulur Pada sayatan melintang batang aglaonema (sri rejeki) epidermis tersusun lebih dari satu lapisan sel. Sel epidermis adalah sel hidup dan mampu bermitosis, hal ini penting dalam upaya perluasan permukaan apabila terjadi tekanan dari dalam akibat pertumbuhan sekunder. Epidermis pada tanaman monokotil memiliki dinding sel yang tebal. Ikatan pembuluh menyebar pada seluruh batang monokotil tetapi yang paling banyak terdapat didaerah mendekati kulit batang. Ikatan pembuluh floem berdampingan dengan xilem dan dikelilingi oleh seludang sklerenkim. Pada stele monokotil terdapat ikatan pembuluh yang menyebar dan bertipe kolateral tertutup yang artinya di antara xilem dan floem tidak ditemukan kambium. Tidak adanya kambium pada monokotil menyebabkan batang monokotil tidak dapat tumbuh membesar, dengan perkataan lain tidak terjadi pertumbuhan menebal sekunder. Pembesaran batang sangat terbatas. Hal ini disebabkan pembesaran batang terjadi melalui pembentukan rongga oksigen. BAB III DAUN Daun merupakan organ tanaman yang berfungsi untuk fotosintesis.Daun berbentuk pipih melebar dan berwarna hijau. Daun ditopang oleh tangkai daun. Tangkai daun berhubungan dengan tulang daun. Tulang daun bercabang-cabang membentuk jaring jaring pembuluh angkut. Struktur daun dibedakan atas struktur luar dan struktur dalam.Sifat yang penting dari daun adalah pertumbuhan apikalnya cepat berhenti dan tidak mengalami perkembangan meristem sekunder. Tahap – tahap perkembangan daun adalah permulaan (inisiasi), diferensiasi awal, perkembangan aksis daun, asal usul helai daun, dan histogenesis jaringan helai daun. 1. Inisiasi. Inisiasi daun dimulai dengan pembelahan periklin dalam kelompok kecil sel pada sisi pucuk. Jumlah lapisan sel yang mulai membelah dan posisinya pada pucuk beragam pada tumbuhan yang berbeda. Pada monokotil yang lain, misalnya Tullipa dan pada semua dikotil pembelahan periklin yang pertama tidak terjadi pada sel lapisan permukaan, tetapi pada sel yang terletak satu atau dua lapisan dibawahnya. Lapisan permukaan diperluas dengan pembelahan antiklin beberapa kali. Pada Gymnospermae terdapat beragam inisiasi dari primordia daun seperti pada angiospermae. Yang paling sering terjadi, inisiasi dari primordia daun dimulai pada lapisan sel di bawah lapisan permukaan. Dalam hal ini lapisan sel tuika dan lapisan sel tetangganya dari korpus ikut serta dalam inisiasi primordium yang berbeda. 2. Diferensiasi Awal Sebagai hasil kelanjutan pembelahan sel, primordium daun menonjol dari pucuk batang sebagai penyokong yang mempunyai bentuk papila kecil atau tonjolan. Penyokong daun terdiri atas lapisan protoderm dan untaian prokambium yang tumbuh secara makropetal dan tidak seberapa jauh dari kambium batang. 3. Perkembangan Aksis Daun Pada kebayakan dikotil dan Gymnospermae perkembangan aksis daun mendahului helai daun. Hasil perkembangan cepat dari primordia menjadi bentuk seperti kerucut yang runcing dengan sisi adaksial pipih atau rata. Ujung kerucut berfungsi sebagai meristem apikal, tetapi dalam spermatophyta, sel pada ujung daun menunjukkan tanda histologi dari pemasakan yang relatif cepat. Pada daun paku pertumbuhan apikal berlagsung dalam periode yang panjang bersama dengan pertumbuhn interkalar dalam arah akropetal. 4. Asal Usul Helai Daun Selama pemanjangan awal dan penebalan aksis daun muda, sel bagian tepi adaksial terus membelah dengan cepat. Pada daun yang sederhana terdapat dua pita seperti sayap yang berkembang pada bagian tepi. Inisial pinggiran adalah sel lapisan paling luar pada tepi helai daun muda. Pada angiosprmae biasanya inisial ini membelah hanya ke arah antiklin dan penambahan sel baru terjadi kearah protoderm abaksial dan adaksial. Pada daun majemuk menjari dan menyirip, helai daun lateral berkembang dari meristem pinggiran adaksial dan aksis daun muda sebagai dua deretan papila. Pada tumbuhan lain, perkembangan helai daun ada yang terjadi secara akropetal maupun basipetal. 5. Histogenesis Jaringan Helai Daun Setelah pertumbuhan pinggiran berhenti, pertumbuhan lebih lanjut dari helai daun dilakukan oleh pembelahan sel helai daun . pembelahan secara antiklin memebentuk lempeng meristem. Aktivitas lempeng meristem menghasilkan peningktan daerah permukaan, tetapi tidak terjadi penebalan organ. Pada helai daun, sel meristem berlapis sehingga relatif mudah untuk melack asal usul epiisermis, jaringan palisade dan spons, serta berkas pengangkut. Secara anatomidaun tersususn dari tiga tipe jaringan yaitu epidermis, mesofil, dan jaringan pembuluh. 1. EPIDERMIS Epidermis berupa satu lapis sel yang dindingnya mengalami penebalan dari zat kutin (kutikula) atau kadang dari lignin. Terdapat kutikula untuk mengurangi penguapan air yang terlalu berlebihan. Permukaan atas daun disebut permukaan adaksial dan permukaan bawah daun disebut dengan permukaan abaksial. Dalam permukaan abaksial terdapat stomata, sel penutup mengandung kloroplas, berfungsi untuk mengatur membuka dan menutupnya stomata mengendalikan pertukaran gas. 2. MESOFIL Mesofil terdiri dari sel-sel parenkim yang tersusun renggang dan banyak ruang antarsel. Pada kebanyakan daun Dikotil, mesofil terdiferensiasi menjadi parenkim palisade (jaringan tiang) dan parenkim spons (jaringan bunga karang). a. Parenkim palisade Sel parenkim palisade memanjang dan penampang melintangnya nampak berbentuk batang yang tersusun dalam deretan. Pada tumbuhan tertentu sel palisade berbeda bentuknya.Sel palisade terletak dibawah epidermis unilateral (selapis) atau multilateral (berlapis banyak). Seringkali terdapt hipodermis diantara epidermis dan jaringan palisade. Sel parenkim palisade tersusun atas satu atau lebih lapisan, apabila tersusun lebih dari satu lapisan panjang sel pada tiap lapisan sama atau semakin ketengah semakin pendek. sel chlorenchymnya kompak dan teratur. Tidak mempunyai Ruang antarsel. Sel-sel mengandung kloroplas dalam jumlah yang besar. Jaringan palisade biasanya terdapat pada permukaan adaksial daun, contonhya pada Thymelea hirsuta, sel parenkim palisade terdapat pada permukaan adaksial daun. Sedangkan pada tumbuhan xeromorf, misalnya pada Atriplex portulacoides , parenkim palisade terletak pada kedua sisi daun, sedangkan parenkim spons hanya terdapat pada tengah daun saja. b. Parenkim Spons Bentuk sel parenkim spons bermacam-macam. Parenkim spons terdiri dari beberapa lapisan sel yang diatur secara longgar, chlorenchyma bulat atau oval dengan ruang antarsel menonjol. Sel-sel ini mengandung kloroplas sangat sedikit. Kekhususannya adalah adanya lobus (rongga) yang terdapat antara sel satu dengan yang lainnya. Membedakan antara sel parenkim palisade dengan parenkim spons tidak selalu mudah, khususnya apabila parenkim palisade terdiri atas beberapa lapisan. Apabila palisade terdiri atas beberapa lapisan, biasanya lapisan paling dalam sangat mirip dengan parenkim spons yang ada didekatnya. 3. BERKAS PEMBULUH ANGKUT Berkas pengangkut terdapat pada tulang daun yang berfungsi sebagai alat transpor dan sebagai penguat daun. Jarigan pengengkut pada daun berupa untaian jaringan khusus yang berfungsi sebagai penunjang dan sebagai saluran yang disebut berkas pembuluh. Berkas pembuluh biasanya terletak di tengah-tengah anatra epidermis atas dan bawah, berkas pembuluh terdiri dari dua jenis jaringan yaitu xilen dan floem. Kedua jaringan tersebut bersama-sama membnetuk jaringan pembuluh. Pada daun, berkas pembuluh yang lebih besar dapat dilihat di permukaan daun berupa tulang daun.Tulang daun yang besar dikelilingi oleh parenkim yg sedikit mengandung kloroplas. Tulang daun yang lebih kecil biasanya juga dikelilingi oleh lapisan sel parenkim. Daun aglaonema dan jenis aslinya berwarna hijau (kecuali jenis rotundum).Daun seperti dibutuhkan untuk menangkap sinar matahari lebih banyak sehingga fotosintesis optimal.Selain untuk menangkap cahaya, di lingkungan aslinya yang lembap, daun aglaonema menjadi lebar agar proses transpirasi (penguapan dari permukaan tanaman) menjadi optimal.Jadi, meski kelembapan tinggi, tanaman ini dapat bertranspirasi.Iklim mikro dari habitat asli itulah yang dijadikan dasar untuk melakukan modifikasi lingkungan di luar habitat asli.Itu karena 3 proses utama metabolisme tanaman yaitu transpirasi, respirasi, dan fotosintesis. Tanaman aglaonema termasuk kedalam tanaman monokotil, daun Monokotil berbentuk seperti pita dan pada pangkalnya terdapat lembaran yang membungkus batang, serta urat daunnya sejajar. Struktur daun Monokotil dapat diamati pada gambar. Keterangan : 1. Sel penjaga /sel penutup 2. Sel tetangga 3. Celah stoma Permukaan atas daun disebut permukaan adaksial dan permukaan bawah daun disebut permukaan abaksial. Tanaman sri rejeki ini disebut tanaman amphistomatic karena mempunyai stomata pada permukaan atas dan permukaan bawah daun, meskipun jumlah stomata pada permukaan atas ( adaksial ) lebih sedikit di bandingkan stomata yang ada di permukaan bawah (abaksial). Anatara bagian abaksial dengan adaksial memiliki tipe bentuk sel yang sama. Stomata sendiri adalah suatu celah pada epidermis yang dibatasi oleh dua sel penutup (sel penjaga) yang berisi kloroplas dan mempunyai bentuk serta fungsi yang berlainan dengan epidermis. Fungsi stomata adalah sebagai jalan masuknya CO2 dari udara pada proses fotosintesis, sebagai jalan penguapan (transpirasi), sebagai jalan pernafasan (respirasi). Secara umum jika dilihat dari bentuk stomata daun aglaonema bertipe aktinositik yaitu mempunyai sel penutup berbentuk ginjal dikelilingi oleh empat sel tetangga atau lebih yang tersusun melingkari stoma. Menurut Ir Edhi Sandra MS, pakar fisiologi tumbuhan dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, aglaonema yang terpapar sinar matahari langsung mengalami peningkatan laju fotosintesis. Karenanya metabolisme sel juga meningkat. Terutama bila diimbangi air dan hara yang cukup. Di saat metabolisme meningkat itulah terjadi penumpukan makanan di seluruh bagian tanaman dibanding kondisi biasa. Kecepatan dinding sel untuk mengeras pun lebih cepat karena proses pembentukan lignin meningkat. Di saat terjadi akumulasi makanan, sementara pertumbuhan daun baru lambat, maka energi beralih merangsang tunas anakan. Makanya jumlah anakan bisa berlipat-lipat. struktur jaringan tanaman yang paling berpengaruh pada paparan daya tahan sinar matahari langsung ialah jumlah stomata dan kekuatan jaringan penguat yaitu jaringan kolenkhim dan sklerenkhim. jumlah stomata berbanding lurus dengan kekuatan tanaman mendukung laju transpirasi dan respirasi yang cepat akibat sinar matahari Struktur stoma : 1. Sel penutup (guard cell) Merupakan sel-sel aktif yang terdiri atas sepasang sel yang terlihat simetris dan terdapat kloroplas. Berfungsi untuk mengatur atau membukanya porus berdasarkan perubahan osmosis. Stomata berasal dari deferensiasi protoderm, mula-mula berasal dari sebuah sel induk, lalu membelah memanjang jadi dua sel yang disenut sel pentup atau sel penjaga. 2. Celah (aperture = porus ) Celah berupa lubang kecil di antara kedua sel penutup. 3. Sel tetangga ( subsidiary cell ) Merupakan sel-sel yang berdampingan atau berada di sekitar sel penutup. Sel-sel tetangga dapat terdiri dari dua buah atau lebih yang secara khusus melakukan fungsinya secara berasosiasi dengan sel penutup. Sel tetangga biasanya berkembang dari sel protoderm yang berbatasan dengan sel induk stoma tetapi dapat juga berkembang dari sel seasal induk stoma. Keterangan : mengangkut Pada sayatan melintang daun aglaonema (sri rejeki) terlihat jelas tipe jaringan pada daun. Epidermis terdiri dari satu lapisan sel, terdapat kutikula untuk mengurangi penguapan air yang terlalu berlebihan. Di bawahnya terdapat sklerenkim yang berperan memperkuat dan melindungi daun monokotil. Pada bagian mesofil letaknya pada cekungan diantara urat daun. Mesofil tidak berdiferensiasi menjadi jaringan tiang tetapi bentuknya seragam, fungsinya sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis. Pada bagian mesofil terlihat ruang antar sel sebagai ciri dari jaringan spons. Ruang antar sel tersebu digunakan untuk aerasi. Selanjutnya jaringan pengangkut terdapat pada tulang daun yang letaknya sejajar sumbu daun dan dihubungkan oleh berkas pengangkut kecil diantaranya. Pada tulang daun terdapat berkas pembuluh yaitu xylem da floem. Xylem yang berfungsi untuk mengangkut zat garam mineral dan air dari akar ke batang atau daun. Sedangkan floem berfungsi untuk mengangkut hasil fotosintesis ke seluruh bagian tumbuhan. Xilem primer terdiri dari jenis sel yang sama dengan xilem sekunder yakni unsur trakel, serat, dan sel parenkim. Tetapi semua itu tidak tersusun dalam sistem aksial dan radial karena tidak mengandung jari-jari empulur. Pada batang, daun, dan bunga xilem primer serta floem yang ada tersusun dalam berkas pembuluh atau ikatan pembuluh. Pada akar, xilem primer merupakan sumbu ditengah atau tersusun dalam berkas terpisah di tepi stele. Parenkim dalam xilem sekunder ada dua macam, yaitu parenkim aksial; yakni parenkim xilem yang berarah tegak sejajar sumbu dan parenkim radial yakni parenkim jari-jari empulur. Floem primer berkembang dari prokambium, sedangkan floem sekunder dari kambium pembuluh. Dalam floem, tak banyak sel mengalami sklerifikasi. Karena letak floem dekat tepi sumbu tumbuhan dan akan terdorong keluar oleh sumbu xilem yang berada di sebelah dalam, maka secara berkala sebagian floem akan tanggal. BAB IV ORGAN REPRODUKSI A. BUNGA Merupakan alat reproduksi pada tanaman angiospermae. Bunga atau kembang adalah struktur reproduksi seksual pada tumbuhan berbunga (divisio Magnoliophyta atau Angiospermae, "tumbuhan berbiji tertutup"). Pada bunga terdapat organ reproduksi (benang sari dan putik). Fungsi biologi bunga adalah sebagai wadah menyatunya gamet jantan (mikrospora) dan betina (makrospora) untuk menghasilkan biji. Proses dimulai dengan penyerbukan, yang diikuti dengan pembuahan, dan berlanjut dengan pembentukan biji. Empat bagian utama bunga (dari luar ke dalam) adalah sebagai berikut: a. Kelopak bunga atau calyx; b. Mahkota bunga atau corolla yang biasanya tipis dan dapat berwarna-warni untuk memikat serangga yang membantu proses penyerbukan; c. Alat kelamin jantan atau androecium (dari bahasa Yunani andros oikia: rumah pria) berupa benang sari; d. Alat kelamin betina atau gynoecium (dari bahasa Yunani gynaikos oikia: "rumah wanita") berupa putik. Bunga aglaonema muncul di ketiak daun. Bentuknya bulat lonjong,berwarna putih kehijauan ditopang batang yang memanjang. Bunga aglaonema termasuk uniseksual, yaitu alat kelamin jantan dan betina terdapat dalam satu bunga. Tanaman Aglaonema mempunyai bunga yang sempurna karena memiliki bunga jantan dan bunga betina, sedangkan menurut Purwanto, bunga Aglaonema sangat sederhana dan termasuk bunga majemuk tak terbatas dan tergolong bunga tongkol (spadix). Bunga Aglaonema memiliki waktu kemasakkan yang berbeda antara bunga jantan dan betina, sehingga sulit dilakukannya persilangan pada Aglaonema. Bunga Aglaonema berwarna putih dengan seludang putih kehijau-hijauan. Bunga jantan yang sudah masak akan terlihat serbuk sarinya berwarna putih. Penyerbukan dilakukan melalui serangga dan angin. Keterangan : 1. Benang sari 2. Seludang 3. Putik Aglaonema juga dapat dilakukan dengan cara persilangan, meskipun kemungkinan keberhasilan sedikit. Persilangan aglaonema sebaiknya dilakukan pada pagi hari, kira-kira sebelum jam 07.00. Sebab, di waktu ini seludang bunga sedang terbuka. Hanya dalam 1-3 hari sebelum seludang, pembungaan terbuka penuh. Untuk mengetahui serbuk sari, biasanya zat ini berbentuk tepung halus. Setelah ketemu, bahan ini bisa dioleskan ke kepala putik bunga yang dijadikan indukan betina dengan menggunakan kuas halus yang sebelumnya telah disapukan dulu ke lendir kepala putik untuk mempermudah mengambil serbuk sari. Setelah proses persilangan dilakukan, sebaiknya tongkol bunga segera ditutup dengan menggunakan kantong plastic. Tujuannya, untuk menjaga kelembaban. Penyerbukan yang berhasil, ditandai dengan pembesaran bakal buah dan dalam waktu 6-8 bulan siap panen. Itu juga bisa dilihat dari perubahan warna buah dari hijau, coklat atau putih ke merah. B. BUAH (BIJI) Buah merupakan organ pada tumbuhan berbunga yang merupakan modifikasi lanjutan bakal buah (ovarium). Buah biasanya membungkus dan melindungi biji. Buah pada tumbuhan umumnya dibedakan dalam dua golongan, yaitu: a. Buah Semu atau buah tertutup, yaitu jika buah itu terbentuk dari bakal buah beserta bagian2 lain pada bunga itu, yang malahan menjadi bagian utama buah ini, sedang buah yang sesungguhnya kadang tersembunyi. b. Buah sungguh atau buah telanjang, yang melulu terjadi dari bakal buah, dan jika ada bagian bunga lainnya yg masih tanggal, bagian ini tidak merupakan bagian buah yg berarti. Struktur Anatomi Buah pada tanaman monokotil terdiri dari; Epikarp, mesocarp, dan endokarp. Pada umumnya buah berkembang dari bagian alat kelamin betina (putik) yang disebut bakal buah yang mengandung bakal biji. Buah yang lengkap tersusun atas biji, daging buah, dan kulit buah. Kulit buah yang masih mudah belum mengalami pemisahan jaringan. Setelah masak, kulit buah ada yang dapat dibedakan menjadi tiga lapisan, yaitu epikarp,mesokarp, dan endokarp. 1) Epikarp merupakan lapisan luar yang keras dan tidak tembus air, misalnya buah kelapa. 2) Mesokarp merupakan lapisan yang tebal dan berserabut, misalnya bersabut (kelapa), berdaging (mangga dan pepaya). 3) Endokarp merupakan lapisan paling dalam yang tersusun atas lapisan sel yang sangat keras dan tebal Biji merupakan bagian tumbuhan yang terbentuk dari hasil pembuahan (fertilisasi) yang terletak di dalam bakal buah. Di dalam bakal buah terdapat bakal biji. Di dalam bakal biji terdapat embrio yang merupakan calon individu. Setiap embrio di dalam bakal biji terdiri atas akar lembaga, daun lembaga, dan batang lembaga. a. Akar lembaga (radikula), merupakan calon akar. b. Daun lembaga (kotiledon), merupakan daun pertama pada tumbuhan. Berfungsi sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis sebelum daun sebenarnya terbentuk. Bagian ini juga berfungsi untuk menimbun makanan. c. Batang lembaga, dibedakan menjadi ruas batang di atas daun lembaga dan ruas batang di bawah daun lembaga. Daun lembaga dan batang lembaga sering juga disebut plumula (puncak lembaga). Sepintas, buah aglonema mirip dengan buah kopi, saat masih mudah warnanya hijau tua dan akan berubah menjadi merah terang ketika sudah tua. Di dalam buah terdapat biji yang dapat ditumbuhkan untuk menghasilkan aglaonema baru. Buah aglonema akan matang setelah mencapai umur delapan bulan. DAFTAR ISI http://id.wikipedia.org/wiki/Sri_rejeki http://rumahfinia36.blogspot.com/2013/03/ciri-dan-manfaat-tumbuhan-sri-rejeki.html http://www.pustakasekolah.com/anatomi-batang.html http://syahrulprasetyo.wordpress.com/2013/03/09/perbedaan-tanaman-dikotil-dan-monokotil/ https://ayups87.wordpress.com/2012/08/19/tanaman-sri-rejeki/ Estiti B Hidayat. “Anatomi Tumbuhan Berbiji “. ITB : Bandung http://tipspetani.blogspot.com/2010/02/pacu-15-anakan-dengan-sinar-matahari.html https://ayahibad.wordpress.com/2010/04/23/cara-penyerbukan-aglonema/