Kamis, 14 Januari 2016

ARTIKEL ATASI KOLESTEROLMU SEGERA

SENYUM SEHAT DENGAN KOLESTEROL RENDAH


M
enurut anda, manakah yang paling beresiko terserang obesitas dan penyakit jantung koroner? Pasti sebagian besar akan menjawab wanita gemuk, tetapi faktanya obesitas dapat terjadi pada siapa saja terutama yang memiliki kebiasaan hidup tidak sehat. Obesitas merupakan suatu kondisi ketidakseimbangan antara tinggi badan dan berat badan akibat jumlah jaringan lemak tubuh yang berlebihan, umumnya ditimbun dalam jaringan subkutan. Obesitas merupakan salah satu problem kesehatan di masyarakat yang memiliki dampak cukup besar bagi orang-orang yang mengalaminya. Baik dari segi kosmetika, estetika yang berkaitan dengan penampilan seseorang dan dari segi medis.
Obesitas dapat diketahui melalui indikator  rasio lingkar pinggang dan panggul (RLPP). Menurut WHO (2008) batasan RLPP  untuk obesitas sentral negara Asia termasuk Indonesia pada laki-laki adalah > 0,90 dan pada perempuan > 0,85. Obesitas sangat erat hubungannya dengan terjadinya sindroma metabolik yang salah satu tandanya adalah peningkatan kolesterol darah total. Orang yang mempunyai berat badan lebih seringkali mempunyai kadar kolesterol darah yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan orang yang berat badannya normal. Peningkatan kolesterol darah juga dapat disebabkan karena penumpukan lemak berlebihan di dalam tubuh (Santos, 2005; Th ais,2011). Kolesterol secara normal diproduksi sendiri oleh tubuh dalam jumlah yang tepat. Tetapi ia bisa meningkat jumlahnya karena asupan makanan yang berasal dari lemak hewani seperti daging ayam, usus ayam, telur ayam, burung dara, telur puyuh, daging bebek dan segala makanan yang berasal dari hewan.
Kecenderungan terjadinya obesitas pada umumnya berhubungan erat dengan pola makan, status social, ketidakseimbangan antara aktivitas tubuh, dan konsumsi makanan. Karena itu bukan hanya orang yang bertubuh gemuk saja yang berdampak obesitas tetapi orang bertubuh kurus juga berpotensi mengalami obesitas jika pola hidupnya tidak dijaga. Untuk hidup seseorang harus makan. Akan tetapi ada pula orang yang hidup untuk makan. Akibatnya, mereka mengalami obesitas. Menarik sekali bahwa di Negara-negara barat, obesitas banyak dijumpai pada golongan social-ekonomi rendah. Mungkin ini dikarenakan sulitnya membeli makanan yang tinggi kandungan protein. Mereka hanya mampu membeli makanan murah yang umumnya mengandung banyak hidrat arang. Obesitas yang dijumpai pada kalangan social-ekonomi tinggi mungkin timbul karena makanan berlemak tinggi disertai penggunaan minuman beralkohol.
Banyak orang beranggapan bahwa semua orang gemuk adalah orang yang suka makan. Ternyata beberapa peneliti menunjukan bahwa orang gemuk tidak makan lebih banyak dibandingkan orang kurus. Bahkan terkadang orang kurus menyatakan sudah makan banyak tetapi tetap kurus. Hal ini dikarenakan pola makan yang berbeda. Penderita obesitas biasanya dijumpai pada orang-orang yang senang masak atau bekerja di dapur dan memiliki gejala suka makan pada waktu malam. Ini menyebabkan hilangnya nafsu makan pada pagi hari. Sedangkan orang yang sudah makan banyak tetapi tetap kurus biasanya memiliki pola makan yang teratur dan aktivitas tubuh yang baik sehingga lemak dalam tubuh dapat dijadikan tenaga dan tidak terjadi penumpukan. Kemajuan teknologi seperti sekarang ini membuat orang cenderung kurang gerak atau menggunakan sedikit tenaganya untuk aktivitas sehari-hari. Hal ini menyebabkan simpanan tenaga tidak banyak digunakan dan lambat-laun akan semakin bertumpuk sehingga menyebabkan obesitas.
Salah satu teori psikologi yang terkenal yaitu teori psikoanalis yang mengatakan bahwa manusia akan selalu dalam keadaan konflik yang dimotivasi oleh fungsi mental yaitu dorongan-dorongan seksual dan agresif yang tidak disadari. Seseorang dengan rasa marah yang selalu ditekan akan memunculkannya dalam bentuk makan. Rasa marah yang dianggapnya sebagai agresivitas akan terselubung apabila dinyatakan dalam bentuk yang lain yaitu makan. Untuk beberapa orang, makan dapat dipakai untuk menghindarkan diri dari rasa takut terhadap seks. Seseorang yang gemuk biasanya merasa dirinya tidak menarik, sehingga menghindarkan diri dari rasa tertarik terhadap lawan jenisnya. Motivasi-motivasi yang tidak disadari ini membuat seseorang makan berlebihan dan membuatnya menjadi obesitas.
Kolesterol yang berlebih didalam tubuh telah diketahui sebagai penyebab utama terjadinya ateroklerosis, yaitu proses pengapuran dan pengerasan dinding pembuluh darah. Akibat, proses ini saluran pembuluh darah khususnya pembuluh darah koroner, menjadi lebih sempit dan menghalangi aliran darah didalamnya. Keadaan ini akan meningkatkan resiko terkena penyakit jantung koroner. Berdasarkan hasil penelitian dislipidemia juga berperan pada terjadinya ateroklerosis yang akan menimbulkan penyakit jantung koroner maupun stroke. Dislipidemia merupakan istilah untuk kelainan metabolisme lemak yang ditandai dengan penurunan atau peningkatan fraksi lemak di dalam darah. Lemak darah ini bisa berupa kolesterol ataupun trigliserida yang terbentuk di hati dari bahan makan berkalori tinggi. Kelainan ini bisa menyebabkan perubahan kebiasaan dan cara hidup seperti kurangnya aktifitas fisik, meningkatnya stress maupun perubahan pola makan. Perubahan fraksi lemak darah bisa disebabkan oleh penyakit atau penggunaan obat-obat tertentu.
Akibat dari obesitas ada beberapa orang yang merasa jengkel dengan kegemukannya dan menarik diri dari pergaulannya. Pada saat kesepian inilah justru mereka akan lari kepada makanan dan membuat lemak ditubuh mereka semakin berlebih. Obesitas tidak datang mendadak, maka stress yang ditimbulkanoleh pembengkakan bentuk tubuhnya meskipun bersifat menekan tetapi sebenarnya dapat diadaptasi oleh orang yang bersangkutan. Hanya pada orang-orang yang karena memperoleh konflik lain atau karena adaptasinya terhadap stress kurang baik, maka obesitas bisa menimbulkan kecemasan yang abnormal yang dengan atau tanpa diikuti depresi. Wanita biasanya lebih cemas dengan obesitas disbanding pria. Wanita yang pasangannya penuh pengertian walaupun tubuhnya menjadi ekstra gemuk akan lebih tenang menghadapi obesitasnya daripada wanita dengan pasangan yang kurang pengertian. Tetapi hal ini justru akan membuat wanita malas untuk mengontrol berat badannya. Berbeda dengan orang yang memiliki kecemasan tinggi terhadap obesitasnya, dia akan lebih mengontrol berat badannya.
Diet merupakan upaya pertama dan utama dalam menanggulangi tingginya kolesterol dalam darah. Secara teori, diet sepertinya mudah dilakukan karena prinsipnya jumlah kalori yang masuk dikurangi sehingga kelebihan lemak didalam tubuh dapat digunakan sebagai energy. Tetapi prakteknya, diet sangatlah sulit diterapkan dan sering mengalami kegagalan. Diet harus dilakukan dengan tepat dan jika perlu dengan pengawasan dokter. Jika diet dilakukan secara berlebihan dan tanpa pengawasan dokter akan menimbulkan efek samping seperti pusing, anemia, asam urat, atau bahkan magh. Berdasarkan penelitian telah diperoleh formulasi optimum bagi penderita obesitas untuk melakukan diet yaitu 180-300 kal yang terdiri atas 15 gr protein dan 30-40 gr karbohidrat setiap harinya. Dengan formula ini, pendertita obesitas tidak ada keluhan lapar, dan tidak ada gangguan keseimbangan elektrolit maupun biokoimia didalam tubuhnya. Penderita dilatih secara perlahan menjalankan diet sehingga pada akhirnya akan terbiasa,
Menurut penelitian, upaya untuk menurukan berat badan tidak hanya dengan pengaturan makanan atau diet saja tetapi harus juga disertai peningkatan aktivitas fisik. Hal ini disebabkan aktifitas fisik sangat penting dalam membantu menguras cadangan energy yang tertimbun di dalam tubuh. Diet tanpa disertai peningkatan aktifitas fisik tidak ada gunanya, karena otot tubuh akan mengecil lalu mengakibatkan penurunan metabolism sehingga akan semakin menyulitkan penurunan berat badan. Demikian juga sebaliknya, melakukan aktifitas fisik tanpa diet juga tidak banyak artinya. Penderita obesitas pada umumnya malas melakukan aktifitas olah raga karena bobot badannya yang berat membuat seseorang susah bergerak. Melakukan olah raga merupakan aktifitas fisik yang sesuai, aman, dan efektif dalam menurunkan berat badan. Untuk penderita obesitas olah raga yang bisa dilakukan seperti berjalan kaki, jalan cepat, naik tangga, senam aerobic, berenang, dan bersepeda. Olah raga teratur seperti ini mampu mengurangi kalori di tubuh.
Bagi penderita obesitas, dianjurkan untuk mengurangi asupan lemak total dan lemak jemuh serta perlu meningkatkan asam lemak tidak jenuh seperti asam oleat yang ada pada kacang tanah dan minyak zaitun. Jadi kurangilah makan makanan yang berasal dari hewan dan perbanyak makanan nabati. Penderita obesitas dan kegemukan perlu membatasi kalori agar tercapai berat ideal. Oleh sebab itu, perlu juga menghindari karbohidrat sederhana seperti gula, madu, dan bhan olahannya, serta mengurangi karbohidrat kompleks seperti nasi, bihun, bakmi, kentang, dan sebagainya. Bagi orang gemuk dianjurkan untuk memperbanyak makan sayur, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Buah walauun mengandung banyak serat juga perlu dibatasi karena mengandung fructose yang dapat diubah menjadi glukosa di dalam tubuh. Mulailah menjalani hidup sehat dengan hal-hal yang sederhana seperti jangan mengambil makanan terlalu banyak. Biasakan mengambil makanan dengan porsi kecil.  Hindarilah makan camilan, gantilah dengan buah. Kurangi makan makanan pencuci mulut dan perbanyak minum air putih. Kurangi konsumsi  makanan yang di goreng atau dimasak dengan santan. Jangan langsung tidur setelah makan, minimal 1 jam setelah makan. Jangan suka makan saat memasak, cobalah membedakan antara mencoba masakan dengan mencicipi makanan.














Daftar Pustaka
Misnadiarly. 2007. Obesitas sebagai factor resiko berbagai penyakit. Jakarta : Pustaka obor popular.
Dalimarta setiawan, felix andrian. 2014. Tumbuhan sakti atasi kolesterol. Jakarta : Penebar Swadaya.