SENYUM SEHAT DENGAN KOLESTEROL
RENDAH
|
M
|
enurut
anda, manakah yang paling beresiko terserang obesitas dan penyakit jantung
koroner? Pasti sebagian besar akan menjawab wanita gemuk, tetapi faktanya
obesitas dapat terjadi pada siapa saja terutama yang memiliki kebiasaan hidup
tidak sehat. Obesitas merupakan suatu kondisi ketidakseimbangan antara tinggi
badan dan berat badan akibat jumlah jaringan lemak tubuh yang berlebihan,
umumnya ditimbun dalam jaringan subkutan. Obesitas merupakan salah satu problem
kesehatan di masyarakat yang memiliki dampak cukup besar bagi orang-orang yang
mengalaminya. Baik dari segi kosmetika, estetika yang berkaitan dengan
penampilan seseorang dan dari segi medis.
Obesitas
dapat diketahui melalui indikator rasio
lingkar pinggang dan panggul (RLPP). Menurut WHO (2008) batasan RLPP untuk obesitas sentral negara Asia termasuk Indonesia
pada laki-laki adalah > 0,90 dan pada perempuan > 0,85. Obesitas sangat
erat hubungannya dengan terjadinya sindroma metabolik yang salah satu tandanya
adalah peningkatan kolesterol darah total. Orang yang mempunyai berat badan lebih
seringkali mempunyai kadar kolesterol darah yang lebih tinggi bila dibandingkan
dengan orang yang berat badannya normal. Peningkatan kolesterol darah juga
dapat disebabkan karena penumpukan lemak berlebihan di dalam tubuh (Santos,
2005; Th ais,2011). Kolesterol secara normal diproduksi sendiri oleh tubuh
dalam jumlah yang tepat. Tetapi ia bisa meningkat jumlahnya karena asupan
makanan yang berasal dari lemak hewani seperti daging ayam, usus ayam, telur ayam,
burung dara, telur puyuh, daging bebek dan segala makanan yang berasal dari
hewan.
Kecenderungan
terjadinya obesitas pada umumnya berhubungan erat dengan pola makan, status
social, ketidakseimbangan antara aktivitas tubuh, dan konsumsi makanan. Karena
itu bukan hanya orang yang bertubuh gemuk saja yang berdampak obesitas tetapi
orang bertubuh kurus juga berpotensi mengalami obesitas jika pola hidupnya
tidak dijaga. Untuk hidup seseorang harus makan. Akan tetapi ada pula orang
yang hidup untuk makan. Akibatnya, mereka mengalami obesitas. Menarik sekali bahwa
di Negara-negara barat, obesitas banyak dijumpai pada golongan social-ekonomi
rendah. Mungkin ini dikarenakan sulitnya membeli makanan yang tinggi kandungan
protein. Mereka hanya mampu membeli makanan murah yang umumnya mengandung
banyak hidrat arang. Obesitas yang dijumpai pada kalangan social-ekonomi tinggi
mungkin timbul karena makanan berlemak tinggi disertai penggunaan minuman
beralkohol.
Banyak
orang beranggapan bahwa semua orang gemuk adalah orang yang suka makan.
Ternyata beberapa peneliti menunjukan bahwa orang gemuk tidak makan lebih
banyak dibandingkan orang kurus. Bahkan terkadang orang kurus menyatakan sudah
makan banyak tetapi tetap kurus. Hal ini dikarenakan pola makan yang berbeda.
Penderita obesitas biasanya dijumpai pada orang-orang yang senang masak atau
bekerja di dapur dan memiliki gejala suka makan pada waktu malam. Ini
menyebabkan hilangnya nafsu makan pada pagi hari. Sedangkan orang yang sudah
makan banyak tetapi tetap kurus biasanya memiliki pola makan yang teratur dan
aktivitas tubuh yang baik sehingga lemak dalam tubuh dapat dijadikan tenaga dan
tidak terjadi penumpukan. Kemajuan teknologi seperti sekarang ini membuat orang
cenderung kurang gerak atau menggunakan sedikit tenaganya untuk aktivitas
sehari-hari. Hal ini menyebabkan simpanan tenaga tidak banyak digunakan dan
lambat-laun akan semakin bertumpuk sehingga menyebabkan obesitas.
Salah
satu teori psikologi yang terkenal yaitu teori psikoanalis yang mengatakan
bahwa manusia akan selalu dalam keadaan konflik yang dimotivasi oleh fungsi
mental yaitu dorongan-dorongan seksual dan agresif yang tidak disadari.
Seseorang dengan rasa marah yang selalu ditekan akan memunculkannya dalam
bentuk makan. Rasa marah yang dianggapnya sebagai agresivitas akan terselubung
apabila dinyatakan dalam bentuk yang lain yaitu makan. Untuk beberapa orang,
makan dapat dipakai untuk menghindarkan diri dari rasa takut terhadap seks.
Seseorang yang gemuk biasanya merasa dirinya tidak menarik, sehingga
menghindarkan diri dari rasa tertarik terhadap lawan jenisnya.
Motivasi-motivasi yang tidak disadari ini membuat seseorang makan berlebihan
dan membuatnya menjadi obesitas.
Kolesterol
yang berlebih didalam tubuh telah diketahui sebagai penyebab utama terjadinya
ateroklerosis, yaitu proses pengapuran dan pengerasan dinding pembuluh darah.
Akibat, proses ini saluran pembuluh darah khususnya pembuluh darah koroner,
menjadi lebih sempit dan menghalangi aliran darah didalamnya. Keadaan ini akan
meningkatkan resiko terkena penyakit jantung koroner. Berdasarkan hasil
penelitian dislipidemia juga berperan pada terjadinya ateroklerosis yang akan
menimbulkan penyakit jantung koroner maupun stroke. Dislipidemia merupakan
istilah untuk kelainan metabolisme lemak yang ditandai dengan penurunan atau
peningkatan fraksi lemak di dalam darah. Lemak darah ini bisa berupa kolesterol
ataupun trigliserida yang terbentuk di hati dari bahan makan berkalori tinggi.
Kelainan ini bisa menyebabkan perubahan kebiasaan dan cara hidup seperti
kurangnya aktifitas fisik, meningkatnya stress maupun perubahan pola makan.
Perubahan fraksi lemak darah bisa disebabkan oleh penyakit atau penggunaan
obat-obat tertentu.
Akibat
dari obesitas ada beberapa orang yang merasa jengkel dengan kegemukannya dan
menarik diri dari pergaulannya. Pada saat kesepian inilah justru mereka akan
lari kepada makanan dan membuat lemak ditubuh mereka semakin berlebih. Obesitas
tidak datang mendadak, maka stress yang ditimbulkanoleh pembengkakan bentuk
tubuhnya meskipun bersifat menekan tetapi sebenarnya dapat diadaptasi oleh
orang yang bersangkutan. Hanya pada orang-orang yang karena memperoleh konflik
lain atau karena adaptasinya terhadap stress kurang baik, maka obesitas bisa
menimbulkan kecemasan yang abnormal yang dengan atau tanpa diikuti depresi.
Wanita biasanya lebih cemas dengan obesitas disbanding pria. Wanita yang
pasangannya penuh pengertian walaupun tubuhnya menjadi ekstra gemuk akan lebih
tenang menghadapi obesitasnya daripada wanita dengan pasangan yang kurang
pengertian. Tetapi hal ini justru akan membuat wanita malas untuk mengontrol
berat badannya. Berbeda dengan orang yang memiliki kecemasan tinggi terhadap
obesitasnya, dia akan lebih mengontrol berat badannya.
Diet
merupakan upaya pertama dan utama dalam menanggulangi tingginya kolesterol
dalam darah. Secara teori, diet sepertinya mudah dilakukan karena prinsipnya
jumlah kalori yang masuk dikurangi sehingga kelebihan lemak didalam tubuh dapat
digunakan sebagai energy. Tetapi prakteknya, diet sangatlah sulit diterapkan
dan sering mengalami kegagalan. Diet harus dilakukan dengan tepat dan jika
perlu dengan pengawasan dokter. Jika diet dilakukan secara berlebihan dan tanpa
pengawasan dokter akan menimbulkan efek samping seperti pusing, anemia, asam
urat, atau bahkan magh. Berdasarkan penelitian telah diperoleh formulasi
optimum bagi penderita obesitas untuk melakukan diet yaitu 180-300 kal yang
terdiri atas 15 gr protein dan 30-40 gr karbohidrat setiap harinya. Dengan
formula ini, pendertita obesitas tidak ada keluhan lapar, dan tidak ada
gangguan keseimbangan elektrolit maupun biokoimia didalam tubuhnya. Penderita
dilatih secara perlahan menjalankan diet sehingga pada akhirnya akan terbiasa,
Menurut
penelitian, upaya untuk menurukan berat badan tidak hanya dengan pengaturan
makanan atau diet saja tetapi harus juga disertai peningkatan aktivitas fisik.
Hal ini disebabkan aktifitas fisik sangat penting dalam membantu menguras
cadangan energy yang tertimbun di dalam tubuh. Diet tanpa disertai peningkatan
aktifitas fisik tidak ada gunanya, karena otot tubuh akan mengecil lalu
mengakibatkan penurunan metabolism sehingga akan semakin menyulitkan penurunan
berat badan. Demikian juga sebaliknya, melakukan aktifitas fisik tanpa diet
juga tidak banyak artinya. Penderita obesitas pada umumnya malas melakukan
aktifitas olah raga karena bobot badannya yang berat membuat seseorang susah
bergerak. Melakukan olah raga merupakan aktifitas fisik yang sesuai, aman, dan
efektif dalam menurunkan berat badan. Untuk penderita obesitas olah raga yang
bisa dilakukan seperti berjalan kaki, jalan cepat, naik tangga, senam aerobic,
berenang, dan bersepeda. Olah raga teratur seperti ini mampu mengurangi kalori
di tubuh.
Bagi
penderita obesitas, dianjurkan untuk mengurangi asupan lemak total dan lemak
jemuh serta perlu meningkatkan asam lemak tidak jenuh seperti asam oleat yang
ada pada kacang tanah dan minyak zaitun. Jadi kurangilah makan makanan yang
berasal dari hewan dan perbanyak makanan nabati. Penderita obesitas dan
kegemukan perlu membatasi kalori agar tercapai berat ideal. Oleh sebab itu,
perlu juga menghindari karbohidrat sederhana seperti gula, madu, dan bhan
olahannya, serta mengurangi karbohidrat kompleks seperti nasi, bihun, bakmi,
kentang, dan sebagainya. Bagi orang gemuk dianjurkan untuk memperbanyak makan
sayur, biji-bijian, dan kacang-kacangan. Buah walauun mengandung banyak serat
juga perlu dibatasi karena mengandung fructose yang dapat diubah menjadi glukosa
di dalam tubuh. Mulailah menjalani hidup sehat dengan hal-hal yang sederhana
seperti jangan mengambil makanan terlalu banyak. Biasakan mengambil makanan
dengan porsi kecil. Hindarilah makan
camilan, gantilah dengan buah. Kurangi makan makanan pencuci mulut dan
perbanyak minum air putih. Kurangi konsumsi
makanan yang di goreng atau dimasak dengan santan. Jangan langsung tidur
setelah makan, minimal 1 jam setelah makan. Jangan suka makan saat memasak,
cobalah membedakan antara mencoba masakan dengan mencicipi makanan.
Daftar
Pustaka
Misnadiarly. 2007. Obesitas sebagai
factor resiko berbagai penyakit. Jakarta : Pustaka obor popular.
Dalimarta setiawan, felix andrian. 2014.
Tumbuhan sakti atasi kolesterol. Jakarta : Penebar Swadaya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar